sumber gambar: unsplash.com

Kemampuan untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik sudah seharusnya dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia. Namun pada kenyataannya, bahasa Indonesia seperti digunakan ala kadarnya. Sebagai contoh, kesalahan dalam penggunaan imbuhan pada kata kerja atau penggunaan kata depan. Agar kesalahan ini tidak terulang kembali, mempelajari tata kata bahasa Indonesia sangat penting, sekali pun hanya digunakan untuk bahasa pergaulan.

Lalu apa saja yang perlu dipelajari dari materi tata kata? Simak penjelasannya di bawah ini!

Tata Kata dalam Bahasa Indonesia dan Contohnya

Pengertian Tata Kata

Dilansir dari endonesa.wordpress.com, kata adalah satuan bahasa terkecil setelah kalimat dibagi atas bagian-bagiannya. Kata berdasarkan bentuknya dapat dibagi menjadi 4, antara lain:

  1. Kata dasar
  2. Kata berimbuhan yang terdiri atas:
  3. Awalan
  4. Bersisipan
  5. Berakhiran
  6. Awalan dan akhiran
  7. Kata ulang
  8. Kata majemuk

Sedangkan tata kata, dilansir dari salindiapresentasi milik Yugie Pasukan dalam situs slideplayer.info, adalah ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan bentuk kata terhadap kelas dan arti kata.

Bentuk Kata

Kata Dasar

Dilansir dari zenius.net, kata dasar adalah satuan bahasa terkecil yang memiliki makna. Sebagai contoh masak, makan, minum, lihat, dan hakim.

Kata Berimbuhan
Awalan

Contoh kata dengan imbuhan di awal kata dapat dilihat pada kalimat di bawah ini.

  1. Ibu memasak ikan di dapur.

Keterangan: memasak dari kata dasar masak + imbuhan me-

  • Andi bermain bola di lapangan.

Keterangan: bermain dari kata dasar main + imbuhan ber-

  • Bapak berkebun di halaman rumah.

Keterangan: berkebun dari kata dasar kebun + imbuhan ber-

  • Bersisipan

Contoh kata dengan sisipan dapat dilihat pada kalimat di bawah ini.

  1. Tono bermain seruling.

Keterangan: seruling dari kata dasar suling + sisipan -er

  • Adik gemetar ketakutan mendengar suara petir.

Keterangan: gemetar dari kata dasar getar + sisipan -em

  • Gelembung-gelembung sabun sangat disukai anak-anak.

Keterangan: gelembung dari kata dasar gembung + sisipan -el

Berakhiran

Contoh kata dengan imbuhan di akhir dapat dilihat pada kalimat di bawah ini.

  1. Ibu membeli pakaian untuk arisan.

Keterangan: pakaian dari kata dasar pakai + akhiran -an

  • Budi adalah karyawan di perusahaan otomotif.

Keterangan: karyawan dari kata dasar karya + akhiran -wan

  • Bapak memetik sayuran di kebun.

Keterangan: sayuran dari kata dasar sayur + akhiran -an

Awalan dan Akhiran

Contoh kata dengan imbuhan di awal dan akhir dapat dilihat pada kalimat di bawah ini.

  1. Ani membuatkan susu untuk adik.

Keterangan: membuatkan dari kata dasar buat + imbuhan mem- dan -kan

  • Ibu memakaikan adik celana.

Keterangan: memakaikan dari kata dasar pakai + imbuhan me- dan -kan

  • Mobil sudah diperbaiki ayah.

Keterangan: diperbaiki dari kata dasar  baik + imbuhan diper- dan -i

Kata Ulang

Dilansir dari zenius.net, kata ulang adalah kata yang mengalami pengulangan. Pengulangan yang terjadi bisa dalam bentuk asli atau dengan adanya perubahan suku kata dan imbuhan, yang kemudian membentuk atau mengubah makna sebenarnya.

  1. Kata ulang dibagi dalam beberapa bentuk:
  2. Dwipurwa (kata ulang sebagian/suku awal)

Contoh: dedaunan, lelaki, dan leluhur.

  • Dwilingga (kata ulang penuh)

Contoh: anak-anak, laki-laki, dan bunga-bunga.

  • Dwilingga salin suara (kata ulang berubah bunyi)

Contoh: mondar-mandir, sayur-mayur, dan corat-coret.

  • Dwiwasana (kata ulang bagian belakang)

Contoh: sekali-kali, berulang-ulang, dan pertama-tama.

  • Trilingga (kata ulang tiga kali variasi)

Contoh: dar-der-dor, cas-cis-cus, dan dag-dig-dug.

  • Kata ulang berimbuhan dapat dibagi menjadi 3, antara lain:
  • Kata ulang progresif adalah kata ulang yang mendapat imbuhan di akhir kata pengulangan.

Contoh: rumah-rumahan, tarik-tarikan, dan kucing-kucingan.

  • Kata ulang regresif adalah kata ulang yang mendapat imbuhan di awal kata pengulangan.

Contoh: tarik-menarik, tawar-menawar, dan masak-memasak.

  • Kata ulang semu adalah pengulangan kata dasar yang menghasilkan kata baru.

Contoh: lumba-lumba, mata-mata, dan oleh-oleh.

  • Kata ulang mengubah makna kata dapat dibagi menjadi 8, antara lain:
  • Kata ulang bermakna mirip/sama.

Contoh: keasam-asaman, kebarat-baratan, dan kebapak-bapakan.

  • Kata ulang bermakna saling.

Contoh: cubit-cubitan, marah-marahan, dan tolong-menolong.

  • Kata ulang bermakna jamak atau beragam.

Contoh: buah-buahan, sayur-mayur, dan tumbuh-tumbuhan.

  • Kata ulang menyatakan intensitas.

Contoh: kuat-kuat, hati-hati, dan pelan-pelan.

  • Kata ulang bermakna bilangan.

Contoh: seribu-seribu, empat-empat, dan seratus-seratus.

  • Kata ulang bermakna keadaan atau situasi.

Contoh: hidup-hidup, segar-segar, dan baik-baik.

  • Kata ulang bermakna kegiatan.

Contoh: jahit-menjahit, duduk-duduk, dan berjalan-jalan.

Kata Majemuk

Kata majemuk adalah gabungan dua kata yang membentuk sebuah makna baru. Ciri-ciri dari kata majemuk adalah tidak dapat disisipi, tidak dapat diperluas, dan tidak dapat ditukar posisi katanya.

Contoh: kacamata, angkat kaki, dan matahari.

Jenis Kata

Jenis kata dapat dibagi menjadi 10, antara lain:

Kata Benda

Kata benda adalah kata yang merujuk pada hal yang bersifat kebendaan.

Contoh: mobil, rumah, dan payung.

Kata Kerja

Kata yang menjelaskan tentang suatu perbuatan atau kegiatan.

Contoh: bermain, bernyanyi, dan memasak.

Kata Sifat

Dilansir dari Wikipedia.org, kata sifat adalah kata yang menerangkan kuantitas, kecukupan, urutan, kualitas, atau penekanan suatu kata.

Contoh: keras, jauh, dan kaya.

Kata Keterangan

Kata yang memberikan keterangan kepada kata lain. Kata keterangan dibagi menjadi 14, yaitu keterangan alat, cara, kesertaan, perlawanan, tujuan, syarat, sebab, akibat, waktu, tempat, derajat, aspek, kepastian dan pelaku.

Contoh: Ibu mencuci pakaian dengan mesin cuci.

Mesin cuci diartikan sebagai keterangan alat.

Kata Ganti

Kata ganti berfungsi untuk menggantikan kata benda atau orang tertentu yang tidak disebut secara langsung. Kata ganti dibagi menjadi enam, antara lain:

  1. Kata ganti orang, yang terdiri dari tiga bagian, yakni:
Kata GantiTunggalJamak
Orang pertamaSaya, aku, dakuKami, kita
Orang keduaKamu, anda, kauKalian, kamu sekalian
Orang ketigaDia, ia, beliauMereka
  • Kata ganti pemilik. Kata ganti ini terdiri dari, -ku, -mu, mereka, kami, -nya

Contoh: Pensilku dipinjam adik.

  • Kata ganti penanya digunakan untuk menanyakan orang, waktu, keadaan, atau tempat.
Penanya orangPenanya waktuPenanya tempatPenanya keadaan
Siapa, apaKapanDi mana, ke manaMengapa, bagaimana, kenapa
  • Kata ganti penunjuk yang digunakan untuk menunjuk suatu benda atau lokasi.
Penunjuk UmumPenunjuk TempatPenunjuk Hal
Ini, ituSini, situ, sana, ke sini, ke situ, ke sana, di sini, di situ, di sanaBegini, begitu
  • Kata ganti penghubung digunakan untuk menghubungkan kalimat dengan anak kalimat. Contoh kata ganti penghubung adalah -yang.
  • Kata ganti tak tentu digunakan untuk menunjuk informasi yang belum diketahui dengan jelas, baik wujud atau jumlahnya. Contoh kata ganti tak tentu adalah seseorang, sesuatu, para, masing-masing, dan barang siapa.
Kata Bilangan

Dilansir dari Wikipedia.org, kata bilangan adalah kata yang menunjukkan bilangan atau kuantitas. Kata bilangan dibagi menjadi dua, yakni kata bilangan tentu dan tak tentu.

  1. Contoh kata bilangan tentu, seperti satu, ketujuh, dan setengah.
  2. Contoh kata bilangan tak tentu, seperti beberapa, sebagian, dan banyak.
Kata Sambung

Dilansir dari Wikipedia.org, kata sambung atau kata penghubung adalah kata yang menghubungkan satu kata dengan kata lainnya dalam sebuah kalimat atau menghubungkan kalimat dengan kalimat dalam suatu paragraf. Contohnya adalah dan, atau, serta.

Kata sambung atau kata penghubung dibagi menjadi dua, yakni kata penghubung yang kedudukannya sederajat atau setara dan kata penghubung yang menghubungkan klausa dengan klausa yang kedudukannya bertingkat.

Untuk contoh kata dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Kata penghubung yang kedudukannya sederajat atau setaraKata penghubung yang menghubungkan klausa dengan klausa yang kedudukannya bertingkat
Menggabungkan biasa: dan, dengan, sertaMenyatakan sebab: sebab, karena
Menggabungkan memilih: atauMenyatakan syarat: kalau, jika, bila, apalagi, asal, jikalau
Menggabungkan mempertentangkan: tetapi, namun, sebaliknya, sedangkanMenyatakan tujuan: agar, supaya
Menggabungkan membetulkan: melainkan, hanyaMenyatakan waktu: ketika, sewaktu, sebelum, tatkala, sesudah
Menggabungkan menegaskan: lagi pula, bahkan, jangankan, apalagi, malah (malahan)Menyatakan akibat: hingga, sampai, sehingga
Menggabungkan membatasi: kecuali, hanyaMenyatakan sasaran: untuk, guna
Menggabungkan mengurutkan: lalu, kemudian, selanjutnyaMenyatakan perbandingan: seperti, sebagai, laksana
Menggabungkan menyamakan: yakni, yaitu, bahwa, adalah, ialahMenyatakan tempat: tempat
Menggabungkan menyimpulkan: karena itu, oleh sebab itu, jadi
Kata Sandang

Kata sandang tidak memiliki arti dan hanya digunakan untuk menjelaskan kata benda.

Dilansir dari zenius.net, kata sandang dibagi menjadi 3 macam, yaitu:

  1. Kata sandang sebagai kata ganti orang atau benda, yaitu “Si”, “Yang”.
  2. Kata sandang untuk menyakatan jumlah yang tunggal, seperti Yang, Sri, Dang, Hyang, Sang, dan Hang.
  3. Kata sandang untuk menyatakan kelompok, seperti Para, Umat, dan Kaum.
Kata Depan

Kata depan adalah kata yang menyambungkan kata-kata atau kalimat. Contoh kata depan antara lain di, ke, dari, untuk, bersama, dan sampai dengan.

Kata Seru

Kata yang digunakan untuk menunjukkan isi hati atau perasaan seseorang, dalam hal ini adalah pembicara. Berdasarkan jenisnya, kata seru dibagi menjadi dua, yaitu berdasarkan bentuknya dan fungsinya.

Dilansir dari zenius.net, contoh kata seru adalah sebagai berikut:

No.Berdasarkan bentuknyaBerdasarkan fungsinya
1.Kata seru asli: hey, wow, ah, oh, duhKata seru panggilan: halo, hey, woy
2.Kata seru biasa: ayo, astaga, masa, aduh, idihKata seru ajakan: ayo, mari, yok
3.Kata seru gabungan: yang benar, tidak mungkin, masa sihKata seru keheranan: masa, aduh, amboi
4.Kata seru ungkapan: Astaghfirullah, Alhamdulillah, Puji Tuhan, syukurlahKata seru kekagetan: astaga, alamak, gila
5.Kata seru tiruan bunyi: dor, plak, bum, kring, brakKata seru kekesalan: ah, ih, idih, sial
6.Kata seru pengharapan: semoga, mudah-mudahan, Insya Allah
7.Kata seru syukur: Alhamdulillah, untung
Kata Serapaan

Dilansir Wikipedia.org, kata serapan adalah kata yang berasal dari bahasa asing atau bahasa daerah, yang kemudian ejaan, ucapan, dan tulisannya disesuaikan dengan penuturan masyarakat Indonesia.

Contoh kata serapan:

  1. Kata serapan dari bahasa Arab, antara lain ilmu, wajib, abad, khianat, dan hakim.
  2. Kata serapan dari bahasa Belanda, antara lain absen, akademi, karcis, prangko, dan praktis.
  3. Kata serapan dari bahasa Inggris, antara lain film, alergi, baterai, kalkulator, dan desain.
  4. Kata serapan dari bahasa Sansekerta, antara lain agama, aneka, baca, bahaya, dan denda.

Nah, itulah penjelasan tentang tata kata dalam bahasa Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat.