Siapa sih yang tidak kenal dengan tata surya di alam semesta ini? Ternyata bumi yang kita pijak ini hanya sebagian kecil bagian dari sistem ketatasuryaan kita. Tentunya, kita sering mendengar sistem ketatasuryaan di alam semesta ini dengan nama Galaksi Bima Sakti atau Milky Way Galaxy.

Kebanyakan orang mengenal sistem ketatasuryaan ini terdiri atas planet, meteor, komet dan matahari di mana matahari sebagai pusat orbitnya. Artinya komet, planet-planet dan meteorit bergerak mengorbit mengelilingi matahari. Hal tersebut terjadi karena matahari memiliki gaya gravitasi yang tinggi.

Nah, sebenarnya apa yang dimaksud dengan sistem tata surya? Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan secara rinci asal-usul, pengertian dan anggota sistem ketatasuryaan di alam semesta ini. Mari, simak selengkapnya di sini.

Hipotesis Asal-Usul Terbentuknya Tata Surya di Alam Semesta Ini

Mungkin di antara kita sering mendengar sistem tata surya, namun pengetahuan tersebut tidak didasari dengan hipotesis yang tepat. Oleh karena itu, dalam pembahasan ini akan dibahas hipotesis asal-usul terbentuknya sistem ketatasuryaan.

Memang hipotesis asal-usul ketatasuryaan yang berkembang banyak sekali. Adapun hipotesis asal-usul ketatasuryaan yang dinilai populer dan diyakini kebenarannya adalah sebagai berikut.

Hipotesis Nebula oleh Beberapa Ahli

Berdasarkan catatan sejarah, hipotesis Nebula ini banyak dikemukakan oleh para ilmuwan. Adapun ilmuwan pertama yang menggunakan hipotesis ini adalah Emanuel Swedenborg (1688 – 1772) pada tahun 1734. Hipotesis tersebut mendapat  penyempurnaan dari Immanuel Kant (1724 – 1804) pada tahun 1775.

Selanjutnya, pada tahun 1796, seorang ilmuwan bernama Pierre Marquis de Laplace melakukan penelitian lebih lanjut tentang hipotesis Nebula sebagai asal-usul terbentuknya tata surya. Oleh karena itu, hipotesis Nebula  dikenal juga dengan nama hipotesis Nebula Kant-Laplace.

Adapun inti dari hipotesis ini adalah tata surya berbentuk kabut raksasa yang terbentuk dari kumpulan gas, es dan debu yang memiliki gaya gravitasi. Selain itu, Laplace juga mengatakan bahwa akibat adanya gaya gravitasi tersebut menyebabkan terjadinya penurunan suhu sehingga terbentuklah planet luar dan planet dalam.

Hipotesis Planetisimal oleh Thomas C. Chamberlin dan Forest R. Moulton

Hipotesis Planetisimal yang dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlin dan Forest R. Moulton pada tahun 1900 menyatakan bahwa tata surya terbentuk karena adanya bintang lain yang sangat dengan matahari sehingga pada akhirnya objek-objek di sekitar matahari bertabrakan sampai membentuk bulan dan planet. Adapun sisa tabrakan objek membentuk asteroid dan komet.

Hipotesis Pasang Surut Bintang oleh James Jeans

Hipotesis pasang surut bintang  dikemukakan pada tahun 1917 oleh James Jeans. Hipotesis ini menyatakan bahwa sistem tata surya terbentuk karena adanya gaya pasang surut dari materi matahari dan bintang. Gaya pasang surut tersebut menyebabkan munculnya planet yang mendekat ke matahari.

Hipotesis Kondensasi oleh G.P. Kuiper

Astronom yang pertama kali mengemukakan hipotesis kondensasi adalah astronom Belanda yang bernama G.P. Kuiper (1905 – 1973). Hipotesis ini dikemukakan pada tahun 1950. Pada hipotesis ini menjelaskan tentang sistem tata surya terbentuk karena adanya bola kabut raksasa yang terus-menerus berputar hingga membentuk cakram raksasa.

Hipotesis Bintang Kembar oleh Fred Hoyle

Sesuai dengan namanya hipotesis bintang kembar, hipotesis ini menyatakan bahwa asal-usul sistem ketatasuryaan kita adalah dari dua bintang kembar yang saling berdekatan kemudian meledak. Nah, ledakan bintang kembar tersebut menyebabkan terbentuknya sistem ketatasuryaan.

Hipotesis bintang kembar ini pertama kali dikemukan oleh Fred Hoyle (1915 – 2001) pada tahun 1956. Hipotesis yang satu ini cukup populer di kalangan astronom dan masih diyakini sampai saat ini.

Hipotesis Protoplanet oleh Carl Von Weizsaecker CS.

Sama halnya dengan hipotesis Nebula, hipotesis Proto Planet menyatakan bahwa sistem tata surya di alam semesta ini terbentuk karena di sekeliling matahari ada kabut gas yang menggumpal dan berevolusi secara terus-menerus. Gumpalan kabut yang terus berevolusi tersebut disebut dengan proto planet.

Hipotesis protoplanet ini pertama kali dikemukakan oleh 3 orang astronom. Ketiga astronom tersebut antara lain sebagai berikut.

  • Carl Van Weizsaecker
  • G.P. Quipper
  • Subrahmanyan Chandarasekar.

Sejarah Penemuan Tata Surya

Sejarah penemuan tata surya ini diawali oleh seorang astronom yang bernama Galileo Galilei (1564 – 1642). Pada awalnya, masyarakat melihat susunan ketatasuryaan di alam semesta ini menggunakan mata telanjang. Namun, setelah Galileo menemukan teleskop refraktor, susunan sistem ketatasuryaan di alam semesta ini dapat dilihat dengan lebih mudah.

Teleskop Galileo sangat memudahkan dalam mengidentifikasi adanya planet-planet di ketatasuryaan ini hingga akhirnya ditemukan teori heliosentris. Teori tersebut menyatakan bahwa matahari merupakan pusat alam semesta.

Penemuan sistem ketatasuryaan terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Pada akhirnya, para astronomi menemukan 1.000 objek kecil di angkasa yang bergerak mengelilingi matahari. Hingga saat ini, para astronom masih melakukan penemuan terkait planet luar dan planet dalam yang ada di sistem tata surya alam semesta ini.

Susunan Planet di Sistem Ketatasuryaan Alam Semesta Ini

Seperti yang telah kita ketahui, pada sistem tata surya terdapat planet-planet yang mengorbit dan bergerak mengelilingi matahari. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikut ini.

Matahari

Pastinya, kita sudah sering mendengar kata matahari. Perlu diketahui, matahari merupakan inti dari sistem ketatasuryaan alam semesta ini. Matahari memiliki temperatur permukaan bersuhu 1 juta Kelvin. Adapun diameter dari matahari adalah 1,4 juta km. Oleh karena itu, tidak heran jika suatu benda semakin mendekati inti matahari semakin panas. Itu karena suhu di dekat inti matahari dapat meningkat hingga mencapai 15 juta Kelvin.

Lebih mengejutkan lagi, matahari bermassa lebih besar dari massa bumi, yaitu 332.839 kali massa bumi. Nah, massa sebesar itu membuat matahari memiliki kemampuan membentuk kepadatan inti yang berakibat menyebabkan reaksi fusi nuklir. Selain itu, kepadatan inti matahari juga dapat menghasilkan energi dalam jumlah besar. Energi yang dihasilkan oleh matahari ini dapat merambat di luar angkasa dalam bentuk gelombang elektromagnetik.

Adapun lapisan pada matahari terdiri atas sebagai berikut.

Bagian Inti

Sesuai dengan namanya bagian inti, merupakan lapisan matahari yang terdalam. Suhu dari bagian ini mencapai 15 juta Kelvin. Nah, lapisan inti inilah memungkinkan terjadinya reaksi fusi nuklir.

Lapisan Fotosfer

Lapisan fotosfer merupakan lapisan matahari yang berada setelah bagian inti. Adapun suhu pada lapisan ini bisa mencapai 6000 Kelvin. Lapisan ini memiliki ketebalan mencapai 300 km.

Lapisan Kromosfer

Lapisan kromosfer merupakan lapisan matahari yang cukup tebal, yaitu memiliki ketebalan mencapai 2000 km. Suhu di lapisan ini juga cukup tinggi, yaitu 4500 Kelvin.

Lapisan Korona

Lapisan korona merupakan lapisan yang berada di bagian luar matahari. Lapisan ini sangat tebal dengan ketebalan mencapai 700.000 km. Adapun suhu di lapisan ini mencapai 1 juta Kelvin.

Planet-Planet di Sekitar Matahari

Tentu saja, kita sering mendengar kata planet. Planet merupakan benda di angkasa yang tidak memiliki cahaya. Adapun pergerakan planet ini beredar mengelilingi matahari. Jumlah planet pada tata surya alam semesta ini ada 8 planet.

Nah, kedelapan planet tersebut adalah sebagai berikut.

Merkurius

Seperti yang telah kita ketahui, planet yang paling mendekati matahari adalah Merkurius. Planet yang satu ini berjarak antara 58 juta km dengan matahari. Tidak heran jika suhu di permukaan Merkurius sangat panas hingga mencapai 450 derajat Celcius.

Meskipun paling dekat dengan matahari, planet ini merupakan planet terkecil di susunan tata surya. Planet ini memiliki diameter yang kecil dibanding planet lainnya, yaitu 4.862 km. Kenyataannya, planet ini mengelilingi matahari dalam periode rotasi 59 hari dan membutuhkan waktu 88 hari.

Venus

Planet di urutan kedua yang dekat dengan matahari adalah Venus. Jarak Venus dengan matahari bisa mencapai 108 juta km. Meskipun tidak memiliki satelit, Venus diklaim sebagai benda langit yang paling bercahaya setelah bulan dan matahari.

Jika digambarkan Venus berbentuk menyerupai bumi. Selain itu, komposisi material di planet ini juga serupa dengan bumi. Perlu diketahui, tekanan atmosfer di planet ini bisa mencapai 92 kali lipat lebih besar dibandingkan bumi.

Bumi

Pada urutan tata surya, Bumi merupakan planet di urutan ketiga yang bergerak mengelilingi matahari. Nah, Bumi inilah merupakan satu-satunya planet yang ada kehidupan, yaitu manusia. Pertanyaannya, mengapa hanya planet Bumi yang memiliki kehidupan? Hal itu karena Bumi memiliki sumber kehidupan seperti: lapisan ozon, karbon dioksida, oksigen, air dan sumber kehidupan lainnya.

Pada dasarnya, Bumi mengorbit mengelilingi matahari, dengan kata lain planet ini berevolusi. Bumi berevolusi selama 365. 26 hari atau selama 1 tahun. Perlu diketahui, kenyataannya Bumi tidak bulat sempurna seperti bola melainkan ada tonjolan.

Ukuran Bumi selengkapnya, adalah memiliki diameter sebesar 12.756 km dengan jari-jari yang melingkar sebesar 6.378 km. Sementara, keliling Bumi mencapai 40.070 km.

Mars

Mars termasuk dalam urutan planet terkecil di urutan kedua setelah Merkurius. Mars berdiameter kurang lebih 6.800 km. Adapun jarak antara Mars dengan matahari adalah 228 juta km. Artinya Mars dapat mengorbit selama 687 hari dengan menggunakan periode rotasi sebesar 24, 6 jam.

Berbeda dengan planet kecil lainnya, Mars memiliki satelit yang terbentuk secara alami. Adapun nama satelit Mars adalah Phobos dan Deimos. Nah, planet yang satu ini memiliki ciri khas, antara lain sebagai berikut.

  1. Memiliki lapisan atmosfer yang sangat tipis.
  2. Berbatu.
  3. Memiliki arus lahar gunung berapi yang sangat dahsyat lebih dahsyat dari Bumi.
  4. Merupakan planet yang memiliki kawah lahar panas.
  5. Memiliki padang pasir, kutub es hingga lembah-lembah curam.

Jupiter

Bukan rahasia lagi, Jupiter merupakan planet terbesar dalam susunan tata surya alam semesta ini. Ukurannya yang cukup besar membuat Jupiter memiliki diameter yang sangat lebar, yaitu 142.860 km. Adapun volume planet ini dapat menampung 1.300 kali massa Bumi.

Pada dasarnya, Jupiter terdiri atas helium dan hidrogen yang membesar membentuk gas raksasa. Gas di planet ini berwarna merah yang berputar berkeliling di tengah-tengah Jupiter. Jadi, jika dilihat Jupiter memiliki ikat pinggang berwarna merah.

Saturnus

Saturnus merupakan planet terbesar di urutan kedua setelah Jupiter. Planet yang satu ini dikenal sebagai planet yang terlihat cantik. Hal itu karena Saturnus memiliki cincin yang mengitarinya. Nah, cincin yang mengitari Saturnus terbuat dari gas beku dan butiran pecahan satelit yang hancur.

Perlu diketahui, Saturnus berevolusi mengelilingi matahari selama 29, 46 tahun. Planet ini berotasi pada porosnya dalam jangka waktu 10 jam 40 menit dan 24 detik. Memang rotasi Saturnus lebih singkat jika dibandingkan dengan rotasi Bumi.

Uranus

Selain Jupiter dan Saturnus, Uranus merupakan salah satu planet terbesar di urutan ketiga. Planet ini dikenal sebagai planet yang paling dingin di antara planet lainnya. Hal tersebut karena Uranus memiliki suhu minimum – 224 derajat Celcius.

Uranus ini juga dikenal sebagai planet yang unik saat berotasi. Hal itu terjadi karena saat berotasi, Uranus berputar pada porosnya dengan cara mengambil arah ke depan. Akibatnya, salah satu kutub Uranus berhadapan dengan arah matahari.

Adapun jarak antara Uranus dengan matahari kira-kira 2.870 juta km. Planet ini memiliki diameter sebesar 50.100 km. Saat berotasi, planet ini memerlukan waktu sekitar 11 jam. Selain itu, Uranus membutuhkan waktu selama 4 tahun saat bergerak mengelilingi matahari.

Neptunus

Susunan planet terakhir dalam tata surya ini adalah Neptunus. Neptunus termasuk dalam planet terbesar di urutan keempat di sistem ketatasuryaan ini. Planet yang satu ini bergerak mengelilingi matahari pada jarak 4.450 juta km. Oleh karena itu, Neptunus membutuhkan waktu selama 164,8 tahun untuk mengelilingi matahari.

Julukan lain dari Neptunus adalah merupakan satu-satunya planet yang paling berangin. Hal tersebut karena Neptunus sering mengalami badai besar. Selain keunikannya yang sering berangin dan badai, ternyata Neptunus juga memiliki cincin seperti Saturnus. Namun, cincin pada Neptunus cenderung tipis dan bias.

Tersebut  di atas merupakan segala hal yang berkaitan dengan sistem tata surya di alam semesta ini. Pastikan, kita selalu menjaga dan melestarikan Bumi dan alam disekitarnya supaya lingkungan kita selalu bersih dan damai.

Sumber:

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Tata_Surya#:~:text=Tata%20Surya%20adalah%20kumpulan%20benda,yang%20terikat%20oleh%20gaya%20gravitasinya.
  2. https://www.studiobelajar.com/tata-surya/
  3. https://lifestyle.kontan.co.id/news/mengenal-sistem-tata-surya-beserta-planet-yang-ada-di-dalamnya?page=all
  4. https://www.merdeka.com/jabar/8-macam-planet-di-tata-surya-dan-ciri-cirinya-ada-yang-baru-ditemukan-kln.html?page=2
  5. https://saintif.com/sistem-tata-surya/