Masyarakat Indonesia terdiri dari beragam suku yang tersebar di berbagai daerah. Bahkan menurut sensus BPS tahun 2010, Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa. Nah, tentunya masing-masing suku memiliki keunikan tersendiri. Penasaran apa saja keunikan mereka? Simak penjabarannya di bawah ini, yuk!

Yuk, Intip Keunikan Berbagai Suku di Indonesia

Suku Badui

Suku Badui merupakan suku yang mendiami wilayah Kabupaten Lebak, Banten yang mana warganya disebut Urang Kanekes. Tahukah kamu, Suku Badui ini terbagi menjadi dua, yakni Badui Dalam dan Badui Luar.

Suku Badui Dalam masih sangat memegang teguh adat istiadat dan mengisolasi diri dari dunia luar. Orang-orang Badui Dalam umumnya mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna putih juga hitam.

Sedangkan suku Badui Luar sudah terbuka dengan mengikuti perkembangan, contohnya mengenal teknologi, menggunakan sabun dan sebagainya. Umumnya mereka mengenakan pakaian hitam dengan ikat kepala berwarna biru tua. Mereka juga telah mengadakan perdagangan secara langsung dengan orang-orang dari luar Suku Badui.

Suku Dayak

Kamu pasti sudah tidak asing dengan salah satu suku terbesar di pulau Kalimantan ini. Suku Dayak terkenal akan kekuatannya dalam bertempur. Meskipun begitu, mereka sebenarnya sangat mencintai kedamaian dan hanya berperang ketika memang kehidupan mereka terusik.

Suku Dayak juga sangat menghargai tamu yang datang berkunjung. Mereka tidak akan segan untuk memberikan berbagai jamuan tanpa meminta imbalan. Jika kamu ingin memberikan balasan atas kebaikan mereka, jangan sekali-sekali memberikan uang tetapi berilah barang yang bisa dijadikan kenang-kenangan.

Selain itu, suku Dayak juga dikenal dengan keunikan memanjangkan cuping telinga yang tidak hanya dilakukan oleh para wanita, tetapi juga para laki-laki. Tradisi ini sudah dilakukan sejak bayi dan menunjukkan tingkatan sosial masyarakat dalam masyarakat Dayak. Namun ada juga yang mengatakan pembuatan telinga panjang untuk melatih kesabaran. Karena ketika dipakai setiap hari, maka kesabaran untuk menahan derita semakin kuat.

Suku Dani

Mungkin beberapa di antara kamu pernah mendengar tradisi potong tangan yang dilakukan oleh masyarakat suku Dani di Lembah Baliem, Papua.

Tradisi ini mungkin terdengar seram namun memiliki makna yang dalam. Pelaksanaan tradisi ini dilakukan kebanyakan oleh para wanita ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Sedangkan pihak laki-laki biasanya akan memotong kulit telinga sebagai tanda kehilangan yang mendalam terhadap anggota keluarga yang meninggal dunia. Jumlah jari yang dipotong menandakan jumlah anggota keluarga yang meninggal dunia.

Hal ini karena bagi suku Dani, jari merupakan simbol harmoni, persatuan dan kekuatan. Selain itu, jari juga melambangkan hidup bersama satu keluarga.

Selain tradisi memotong jari, suku Dani juga melakukan mandi lumpur. Kegiatan ini bermakna setiap manusia yang meninggal maka akan kembali ke tanah.

Suku Sasak

Umumnya pernikahan dilakukan dengan proses yang sederhana, misalnya saja memberikan hantaran, menentukan tanggal menikah dan mengurus surat-surat untuk persyaratan dokumen menikah. Tapi tahukah kamu ada tradisi pernikahan unik yang dilakukan oleh salah satu suku di Indonesia, yaitu suku Sasak?

Dalam tradisi suku Sasak, sepasang kekasih yang akan menikah melakukan perjanjian untuk ‘menculik’ kekasih wanita. Perjanjian ini hanya diketahui oleh sepasang kekasih dan beberapa kerabat dekat namun tidak boleh diketahui oleh orang tua pihak perempuan.

Pada hari H, sang perempuan akan keluar rumah dan sang pria serta beberapa kerabatnya akan menculiknya dan melarikannya untuk bermalam di rumah saudara atau kerabat. Esok paginya, sang pria akan meminta keluarga untuk mengabarkan kepada pihak keluarga perempuan bahwa anaknya sudah diculik.

Jika sudah seperti itu, maka sepasang kekasih tersebut harus segera dinikahkan karena seluruh desa sudah mengetahui penculikan ini, yang dalam bahasa Sasak disebut Nyelabar.

Setelah tradisi ini dilakukan, maka dilanjutkan dengan persiapan pernikahan hingga pelaksanaan pernikahan sesuai dengan agama yang dianut.

Suku Naulu

Biasanya seorang wanita yang sedang hamil akan banyak membutuhkan perawatan kesehatan dan tidak bisa ditinggal sendirian saja. Namun dalam tradisi suku Naulu, wanita yang sedang hamil justru diasingkan, lho.

Tradisi unik ini dilakukan oleh wanita yang sedang hamil dan yang sedang datang bulan. Biasanya ibu hamil tersebut akan berada di sebuah gubuk yang disebut Tikusune hingga melahirkan. Selama mereka berada dalam Tikusune, tidak ada pria yang berani datang untuk mengganggu karena perbuatan tersebut dilarang dan akan mendapat sanksi yang berat.

Ketika datang waktu persalinan, sang ibu hamil akan dibantu oleh seorang dukun beranak yang sudah mahir selama proses persalinan. Setelah persalinan, sang ibu dan anaknya akan dimandikan lalu kembali ke rumahnya.

Keluarga yang menunggu di rumah biasanya akan melakukan puasa sehari penuh baru kemudian bayi akan diantar ke rumah. Keluarga juga akan mengadakan jamuan seperti makan bersama dengan para sukunya.

Suku Toraja

Selain tradisi upacara pemakaman yang disebut Rambu Solo’, suku Toraja juga terkenal dengan tradisi unik yang cukup menyeramkan disebut Ma’nene. Ma’nene merupakan sebuah ritual membersihkan jasad para leluhur yang telah meninggal puluhan hingga ratusan tahun. Desa Pangala dan Baruppu merupakan desa yang masih rutin mengadakan ritual ini setiap tahun.

Ritual ini dimulai dari para anggota keluarga yang mengambil jasad anggota keluarga dari Patane, yaitu makam keluarga yang berbentuk seperti rumah. Kemudian jasad dibersihkan dan pakaian atau kain yang digunakan para leluhur tersebut diganti dengan yang baru.

Setelah itu, jasad dibungkus dan dimasukkan kembali ke Patane. Proses ritual ini ditutup dengan beribadah bersama di rumah adat Tongkonan. Tradisi ini biasanya dilakukan setelah masa panen, yakni sekitar bulan Agustus akhir.

Suku Mentawai

Suku Mentawai dikenal dengan berbagai tradisi uniknya, tetapi yang paling terkenal adalah tradisi merajah tubuh dan kerik gigi.

Tradisi merajah tubuh suku Mentawai dipercaya sudah ada sejak lama, bahkan dianggap sebagai tato tertua di dunia. Biasanya proses merajah dilakukan dalam 3 tahap, yakni saat berusia 11-12 tahun di pangkal lengan, 18-19 tahun di bagian paha dan terakhir ketika seseorang sudah dianggap dewasa.

Praktik ini biasanya dilakukan oleh sipatiti atau seniman tato suku Mentawai dengan menggunakan jarum yang telah diberi tinta kemudian dipukul-pukul kecil dengan alat kayu hingga jarum masuk ke dalam kulit tetapi tidak menembus daging.

Selain merajah tubuh, suku Mentawai juga dikenal dengan tradisi kerik gigi yang dilakukan para wanita untuk mencapai standar kecantikan dalam masyarakat mereka. Biasanya mereka akan mengerik gigi dengan alat seperti besi atau kayu yang sudah diasah hingga tajam dan proses ini berlaku untuk 23 gigi mereka.

Proses ini tentu menyakitkan karena mereka tidak menggunakan bius, namun tradisi ini dilakukan untuk mengendalikan diri dari 6 sifat buruk manusia menurut kepercayaan suku Mentawai.

Nah, itulah keunikan berbagai suku yang ada di Indonesia. Kita sepatutnya bangga dengan keberagaman ini dan sudah menjadi kewajiban kita untuk tetap menjaga keberadaan mereka.