Beberapa bulan yang lalu, telah diluncurkan sebuah film yang diadaptasi dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Dapat dikatakan dari film inilah titik diangkatnya kembali nama Pramoedya, sebab saat ini mungkin tidak banyak yang mengetahui siapa itu Pramoedya Ananta Toer.

Pria yang akrab disapa Pram ini merupakan salah satu sastrawan yang sangat diperhitungkan. Total karya yang telah ia hasilkan lebih dari 50 karya dan sudah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa asing.

Pram lahir di Blora, Jawa Tengah pada tanggal 6 Februari 1925 dengan nama Pramoedya Ananta Mastoer. Penggantian nama keluarganya menjadi Toer karena ia merasa nama Mastoer terlalu aristokratik, sehingga ia memutuskan untuk menghilangkan awalan “Mas” pada nama keluarganya.

Perjalanan Pendidikan Pramoedya Ananta Toer

Ketika masih kanak-kanak, ia sempat mengenyam pendidikan di Institut Boedi Oetomo Blora (setara SD) di bawah didikan ayahnya yang menjadi guru di sana. Setelah tamat dari institut, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Teknik Radio di Surabaya.

Ketika Perang Dunia II pecah, ia pergi ke Jakarta untuk bekerja sebagai juru ketik di Domei, yakni kantor berita saat Indonesia berada di bawah kekuasaan Jepang. Sambil bekerja, ia juga melanjutkan pendidikannya di Taman Siswa pada tahun 1942-1943 dan kemudian dilanjutkan kursus stenografi. Perjalanan pendidikan Pram tidak hanya sampai di situ, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Islam di Jakarta pada tahun 1945.

Masa Muda di Bidang Militer

Seperti kebanyakan pemuda Indonesia zaman dahulu, Pram sempat mengikuti pelatihan militer Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan bergabung dengan Resimen 6 yang ditempatkan di Cikampek, kemudian ia ditempatkan di Jakarta.

Selama bergabung dalam militer hingga ia ditahan oleh pemerintah kolonial Belanda karena dituduh menyimpan dokumen yang berisi pemberontakan, Pram sudah aktif menghasilkan karya tulis, seperti cerpen dan juga buku.

Ada hal unik selama Pram ditahan di penjara. Penjaga penjaranya memberikan salinan novel Of Mice and Men karya John Steinbeck yang Pram gunakan untuk belajar Bahasa Inggris. Selain itu, kegiatannya selama di penjara adalah menulis cerpen dan buku untuk menghilangkan rasa putus asa terisolasi dari dunia luar.

Pramoedya dan LEKRA

Mungkin beberapa di antara Anda tahu apa itu Lembaga Kesenian Rakyat atau yang disebut LEKRA. Lembaga ini merupakan organisasi kebudayaan sayap kiri di Indonesia yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam hubungannya dengan Pram adalah ia ‘dianggap’ bergabung dengan LEKRA dan ‘dianggap’ menjadi salah satu anggota yang paling terkenal.

Karena ‘keterlibatannya’ inilah, ia kemudian ditangkap oleh pemerintahan Soeharto pada tahun 1960-an. Dan awalnya ditahan di Rumah Tahanan Militer Tangerang selama empat tahun. Sejak saat itu, karya-karyanya dilarang beredar dan ia mulai dipindahkan ke Penjara Nusakambangan tanpa pengadilan. Yang kemudian dipindahkan lagi ke Pulau Buru selama sepuluh tahun.

Pramoedya di Pulau Buru

Diasingkan ke Pulau Buru membuatnya terpisah jarak yang sangat jauh dengan keluarganya di Jakarta. Bahkan sekadar untuk menanyakan kabar, mereka harus saling menunggu satu tahun lamanya. Jika ingin lebih cepat, biasanya keluarga Pram di Jakarta akan menitipkan surat melalui para pejabat yang kebetulan akan berangkat ke Pulau Buru, namun hal itu sangat jarang terjadi.

Kendati semua karyanya dilarang beredar oleh pemerintah Orde Baru, semangat Pram untuk menulis tidak lantas surut. Semasa di penjara, ia melanjutkan karyanya, antara lain Ensiklopedia Citrawi Indonesia dan menyusun Tetralogi Pulau Buru jilid pertama, yakni Bumi Manusia.

Pram baru dibebaskan dari Pulau Buru pada tahun 1979, namun ia tetap menjadi tahanan dengan status tahanan rumah hingga 1992, tahanan kota dan negara hingga 1999 serta ia diharuskan wajib lapor selama kurang lebih dua tahun.

Menjadi Tahanan Kota dan Negara

Selama menjadi tahanan kota dan negara ia terus melanjutkan karya-karyanya, seperti Gadis Pantai (1995), Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995) dan Arus Balik (1995). Ia juga mendapatkan Ramon Magsaysay Award pada tahun 1995. Meskipun pemberian penghargaan ini menuai protes dari tokoh sastra Indonesia lain yang menuding Pram sebagai algojo LEKRA. Sehingga tidak pantas mendapatkan penghargaan tersebut. Di tahun yang sama pula, ia meraih Wertheim Award.

Pramoedya dan Karya-Karyanya

Sejak awal memulai karir di bidang sastra, Pram sudah banyak membuat tulisan yang mengkritik pemerintah yang berkuasa saat itu. Hal ini dapat dilihat dari beberapa buku karya Pram, seperti Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer yang bercerita tentang perempuan Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur saat Jepang berkuasa di Tanah Air.

Mereka akhirnya di bawa ke Pulau Buru dan tidak sedikit yang mengalami kekerasan. Para perempuan tersebut akhirnya tinggal di Pulau Buru dan tidak pernah kembali ke Jawa.

Karya kedua adalah Bumi Manusia yang menceritakan tentang kehidupan seorang pemuda Jawa bernama Minke yang merupakan seorang anak keturunan bangsawan di Jawa. Ia dikenal sebagai pemuda yang pandai menulis, tulisannya sering kali dimuat di harian Belanda. Minke merupakan sosok yang berani melawan ketidakadilan dan memberontak terhadap kebudayaan Jawa yang membuatnya selalu di bawah.

Melalui salah satu buku dari Tetralogi Buru, Pram menggambarkan kehidupan sengsara yang dialami para pribumi dalam kekuasaan pemerintah kolonial. Penindasan yang dialami, pergundikan dan adanya strata sosial yang menempatkan warga pribumi di kelas terendah menjadi tema pembahasan dalam novel ini.

Karya ketiga adalah Gadis Pantai yang menggambarkan feodalisme di Jawa pada zaman dahulu. Menceritakan seorang perempuan Jawa yang terpaksa dinikahkan dengan seorang priyayi karena utang keluarganya. Perempuan ini dinikahkan hanya sebagai budak seks priyayi tersebut sebelum ia menikah dengan perempuan sederajat. Perempuan ini kemudian diceraikan setelah melahirkan anak pertama mereka.

Karya yang keempat, yakni Jejak Langkah yang merupakan bagian dari Tetralogi Buru. Buku ini menceritakan Minke sang tokoh utama yang terinspirasi dari kehidupan Tirto Adhi Soerjo yang berjuang melawan penjajahan kolonial melalui organisasi dan pers. Sambil meneruskan pendidikannya di STOVIA, Minke tetap menulis. Karya-karyanya yang berisi tentang kritik terhadap pemerintah kolonial ini kemudian diterbitkan di koran.

Penutup

Karya-karya Pram tidak berhenti sampai di sini saja. Masih banyak karya-karyanya yang lain dan topiknya tidak jauh dari kritik terhadap lingkungannya. Hal ini membuat karya-karyanya dilarang beredar pada masa Orde Baru karena dianggap menyebarkan ajaran komunisme.

Karena karya-karyanya yang luar biasa, Pram mendapatkan banyak penghargaan bergengsi sebagai seorang sastrawan. Seperti Freedom to Write Award, Ramon Magsaysay Award, Wertheim Award dan lain sebagainya. Ia juga memperoleh gelar Doctor of Humane Letters dari Universitas Michigan pada tahun 1999.

Meskipun begitu, karya-karya Pram justru menjadi bahan pelajaran di beberapa negara, seperti Australia, Amerika Serikat hingga Filipina. Tetapi tidak diajarkan di Indonesia.

Itulah sekilas tentang Pramoedya Ananta Toer dan kehidupannya yang penuh perjuangan melalui karya tulisnya. Semoga menginspirasi kita semua.