Dari dulu sampai sekarang, matematika masih menjadi momok bagi sebagian besar pelajar. Mereka beranggapan bahwa matematika merupakan bidang ilmu yang sulit dipelajari karena harus menghafal rumus dan menerapkannya sekaligus. Tapi, tahukah kamu bahwa matematika tidak sesulit yang dibayangkan? Berbekal tips-tips berikut, pandanganmu tentang matematika akan berubah dan kamu akan menyadari kalau matematika tidak sesulit yang dibayangkan.

Kenali Gaya Belajarmu

Pada umumnya, orang-orang belajar dengan cara membaca kemudian menghafalkannya. Padahal, gaya belajar tersebut tidak cocok diterapkan untuk semua pelajar. Pemilihan gaya belajar yang tepat akan berpengaruh terhadap efektivitas otak dalam mencerna informasi yang diperolehnya. Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya jika sejak dini kita menyadari dan memahami gaya belajar apa dan bagaimana yang cocok dengan diri kita. Berikut merupakan 7 gaya belajar yang perlu diketahui.

Gaya belajar visual

Gaya belajar visual adalah gaya belajar yang ditandai dengan preferensi media belajar berupa hal-hal visual, seperti gambar, grafik, warna, imaji visual dan spasial. Jika kamu mudah membaca peta atau instruksi petunjuk sesuai gambar dengan baik, kemungkinan besar gaya belajar ini cocok denganmu.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan gaya belajar ini untuk memahami matematika seperti membuat mindmapping bangun datar dan bangun ruang; membuat flashcard yang berisi tabel perhitungan matematika; membuat catatan infografis mengenai suatu rumus dan keterkaitannya dengan rumus lain; membuat ringkasan bergambar dan sebagainya.

Gaya belajar auditorial

Gaya belajar auditorial ditandai dengan kemampuan untuk memproses segala informasi terkait dengan suara, seperti pidato, ceramah, rekaman suara, dan sebagainya secara mudah. Selain itu, gaya belajar ini juga dapat diidentifikasi dari kemampuan untuk mendengarkan dan memahami berbagai hal dalam waktu yang lama.

Mereka yang menggunakan gaya belajar ini sangat peka terhadap nada dan ritme suara. Oleh karena itu, metode belajar matematika yang cocok dengan gaya belajar ini adalah seperti mendengarkan audio book, rekaman materi, dan mendengarkan penjelasan dari orang. Selain itu, improvisasi belajar yang dapat dilakukan adalah dengan membuat musikalisasi materi supaya lebih mudah dipahami.

Gaya belajar verbal

Gaya belajar ini berbeda dengan gaya belajar visual. Gaya belajar verbal berfokus pada kemampuan seseorang untuk memahami segala sesuatu melalui bahasa, baik secara lisan maupun tulisan.

Umumnya, orang dengan gaya belajar verbal akan merasa nyaman untuk membaca berbicara dan menulis suatu materi pelajaran. Mereka juga menyukai permainan kata, pencocokan kata, dan sebagainya.

Oleh karena itu, metode belajar yang cocok diterapkan untuk gaya belajar ini adalah seperti penggunaan teknik mnemonik atau pengaitan kata, membuat akronim, menulis ulang suatu materi, dan menyampaikan materi dengan gaya bahasa sendiri.

Gaya belajar kinestetik

Gaya belajar kinestetik ditandai dengan kemampuan untuk menerima dan mengolah informasi secara cepat dari hal-hal yang berkaitan dengan fisik atau gerakan, seperti sentuhan, penggunaan alat peraga dan partisipasi aktif dalam kegiatan belajar dan mengajar.

Biasanya, orang dengan gaya belajar ini cenderung akan mengerti suatu hal jika mereka mengalaminya secara langsung. Oleh karena itu, cara belajar yang efektif dengan gaya belajar ini adalah menggunakan alat peraga dan/atau melibatkan partisipasi diri secara aktif.

Ketika belajar matematika, kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya menghitung lengkung sudut meja, menghitung luas kamar mandi, menghitung uang yang akan diperoleh pada hari kesekian, dan sebagainya.

Gaya belajar logika

Dibandingkan dengan gaya belajar yang lain, gaya belajar ini memang lebih relevan dan cocok untuk belajar matematika. Biasanya, orang dengan gaya belajar logika akan mudah menyadari berbagai hal terkait pola, silogisme, sebab-akibat, dan keterkaitan satu hal dengan hal lainnya yang jarang disadari oleh orang-orang.

Melalui gaya belajar ini, kita akan lebih mudah memahami matematika dengan cara mengkoneksikan berbagai permasalahan atau soal detail dan kemudian menyusunnya secara runtut layaknya sebuah puzzle. Selain itu, kita akan merasa tertantang untuk menyelesaikan berbagai persoalan matematis karena terbantu oleh kemampuan analisis problem solving secara sistematis.

Gaya belajar interpersonal

Gaya belajar interpersonal merupakan gaya belajar yang mengedepankan kemampuan sosial yang baik seperti kemampuan untuk berkomunikasi secara komunikatif baik secara lisan maupun tulisan.

Umumnya, orang dengan gaya belaajr interpersonal akan merasa lebih mudah untuk belajar dengan cara berdiskusi dan berkonsultasi dengan orang lain. Selain itu, mereka juga akan lebih mudah mengutarakan ide-ide dan pemikiran mereka terkait suatu hal di depan orang lain.

Jika kamu adalah pengguna gaya belajar ini, cara-cara yang efekti untuk memahami matematika antara lain seperti berdiskusi materi dengan teman sekelas dan/atau berkonsultasi dengan guru matematika. Selain itu, membentuk peer group juga merupakan langkah yang efektif untuk lebih mudah belajar materi yang akan datang.

Gaya belajar intrapersonal

Berbeda dengan gaya belajar interpersonal, gaya belajar intrapersonal terlihat seperti kebalikan dari gaya belajar tersebut. gaya belajar intrapersonal berfokus pada konsenstrasi penuh ketika seseorang berada dalam situasi yang tenang dan mereka cenderung menyendiri.

Biasanya, orang-orang dengan gaya belajar ini akan mengerjakan segala sesuatu secara mandiri. Oleh karena itu, salah satu cara yang efektif untuk belajar menggunakan gaya ini adalah membuat personal interest and goals. Dengan membuat hal tersebut, kita akan lebih mudah memetakan materi apa saja yang perlu dipelajari dan ditingkatkan.

Jadilah active learner yang tangguh

Ketika belajar matematika, hal mendasar yang perlu dimiliki oleh setiap orang adalah kemampuan untuk menjadi pembelajar aktif (active learner). Perlu diketahui, matematika bukan hanya pelajaran berhitung.

Lebih dari itu, matematika adalah pelajaran untuk melatih kemampuan berlogika dalam membuat poblem solving. Biasanya, satu materi dalam matematika memuat berbagai macam persoalan yang harus diselesaikan.

Dengan membiasakan diri menghadapi berbagai persoalan tersebut, otak akan terpicu dan bereaksi untuk menyelesaikannya. Dengan demikian, ketika menghadapi soal-soal matematika, kita tidak akan kaget dan akan merasa tenang untuk mengerjakan soal-soal tersebut.

Belajar dalam lingkungan yang kondusif

Ketika belajar matematika, ada baiknya kita belajar di lingkungan yang kondusif. Hal ini akan membantu kita untuk tetap dapat berkonsentrasi dalam memahami matematika. Untuk mendapatkan lingkungan belajar yang konduif, kita bisa mencarinya di area yang tidak terlalu bising seperti kedai kopi atau café yang agak sepi atau bisa juga di kamar sendiri.

Selain itu, untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, kita perlu menyingkirkan benda-benda yang akan mendristraksi konsentrasi seperti ponsel. Jika musik membantu kita belajar, pilihlah musik-musik instrumental dan atur volume supaya tidak terlalu keras.

Matematika adalah materi kumulatif

Belajar matematika adalah belajar secara bertahap. Hal ini disebabkan oleh keterkaitan antara satu materi dengan materi yang lain. Oleh karena itu, belajar matematika akan menjadi sulit jika materi yang dipelajari acak dan melompat-lompat. Contoh, ketika kita ingin belajar bangun ruang, kita harus belajar dulu tentang bangun datar dan sebelum belajar bangun datar, kita harus belajar tentang garis dan sudut.

Jika suatu saat kita ketinggalan satu materi tertentu, kita akan kesulitan untuk menghadapi materi selanjutnya karena kita belum memahami materi sebelumnya. Dengan demikian, akan lebih baik jika kita segera mencatat materi yang tertinggal tersebut agar dapat digunakan sebagai modal belajar materi yang akan datang.

Prinsip ini juga berlaku dalam soal-soal matematika. Dalam pengerjaan soal-soal tersebut, kita harus melakukannya secara kumulatif, runtut dan urut. Daripada pusing-pusing memikirkan bagaimana hasil akhirnya, akan lebih baik jika kita mengerjakan soal secara runtut dan urut untuk mengungkap jawaban.

Jika langkah pertama yang harus dikerjakan adalah penjumlahan, fokuslah pada penjumlahan tersebut. begitu juga dengan perintah yang lain. Jika kita diharuskan mengerjakan penjumlahan namun konsentrasi terpecah karena memikirkan jawaban dari langkah-langkah selanjutnya, hal tersebut akan membuang-buang waktu saja.

Oleh karenanya, lebih baik jika kita mengerjakan secara runtut dan urut. Baru setelah soal selesai dikerjakan, kita bisa meninjau ulang hasil pekerjaan kita. Mengecek ulang hasil pekerjaan juga membantu kita memahami teori dan/atau materi yang tengah dikerjakan.

Memahami, bukan menghafalkan

Biasanya, materi-materi yang bersifat sosial-humaniora seperti sejarah, geografi, bahasa dan sebagainya adalah materi yang bersifat hafalan; sedangkan materi yang bersifat saintis-matematis cenderung bersifat pemahaman, termasuk matematika.

Dalam mengerjakan soal-soal matematika, diperlukan pemahaman konsep secara matang. Jika kita menghafal rumus tanpa memahaminya, kita akan kesulitan ketika menghadapi soal matematika yang variabel angkanya berbeda. akan tetapi, jika kita sudah memahami konsep dari rumus tersebut, kita akan mudah mengerjakan soal meskipun variabel angkanya diubah.

Hal yang identik dari matematika adalah prinsipnya yang menggunakan logika dan proses runtut dalam penyelesaian soal. secara sekilas, matematika tampak seperti sesuatu yang sulit dan rumit. Namun, jika kita mau sedikit berusaha, matematika akan terasa mudah, menantang dan menyenangkan.

Kita dapat memulai memahami matematika dengan pertanyaan dasar seperti apa, mengapa dan bagaimana, misalnya: apa yang dimaksud teorema? mengapa teorema phytagoras perlu dipelajari? Bagaimana penggunaan teorema tersebut dalam kehidupan sehari-hari? Dengan memahami suatu materi, kita akan lebih mudah mengerti materi tersebut dan dapat melanjutkannya ke materi yang lain.

Buatlah list vocab dan rumus matematika

Sama seperti ilmu-ilmu lain yang menggunakan medium bahasa tertentu, matematika juga menggunakan bahasa tersendiri. Dalam matematika, terdapat berbagai istilah terkait dengan materi yang perlu dipahami.

Biasanya, istilah tersebut juga diikuti dengan berbagai rumus. Sebagai contoh, istilah phytagoras adalah preferensi kata yang merujuk pada rumus untuk menghitung besaran panjang suatu sisi dari segitiga siku-siku. Penemu rumus ini adalah Phytagoras. Dengan mencatat istilah dan rumus tersebut akan membantu otak untuk memahami makna yang termuat di dalamnya.

Buat catatanmu semenarik mungkin

Selain memahami konsep, belajar matematika juga akan lebih efektif jika kita membaut catatan materi secara komprehensif atau menyeluruh. Meskipun demikian, tidak semua hal harus ditulis. Kita bisa menulis materi-materi penting yang terkadang tidak ditulis oleh guru di papan tulis.

Ketika guru menerangkan sembari menekankan materi yang disampaikannya; simpulkanlah materi tersebut dan kemudian jabarkan dalam catatan dengan menggunakan bahasa sendiri. Dengan demikian, hal ini akan mempersingkat waktumu untuk mencatat materi sekaligus membantumu untuk memahami konsep dari materi yang disampaikan.

Latihlah diri sesering mungkin secara berkala

Biasanya, matematika identik dengan soal latihan dan tugas pekerjaan rumah. Hal ini memang cukup beralasan karena matematika akan lebih mudah dipahami jika kita sering berlatih.

Singkatnya, semakin sering kita berlatih soal matematika maka akan semakin tinggi kemampuan kita dalam memahami materi tersebut. soal-soal latihan dan tugas PR akan membantu kita membiasakan diri dengan berbagai konsep dan metode penyelesaian masalah dalam matematika.

Jika kamu ingin memahami matematika, berhentilah mengeluh atas banyaknya soal dan mulailah bersyukur serta rajin mengerjakan tugas tersebut. supaya tidak mudah lupa, kita bisa mengerjakan PR langsung pada hari yang sama ketika materi disampaikan.

Dengan mengerjakan secara detail dan membuat langkah penyelesaian secara urut dan terkonsep akan memudahkan kita jika suatu saat ingin belajar materi tersebut.

Untuk latihan berkala, kita bisa membuat jadwal mengerjakan soal-soal latihan secara rutin. Buatlah jadwal dengan waktu luang yang memungkinkan kita untuk belajar secara rutin, misal ketika sore atau malam hari.

Selain itu, durasi waktu belajar juga perlu diperhatikan supaya tidak mudah lelah dan stres. Umumnya, durasi belajar yang efefktif adalah sekitar 30-45 menit per sekali belajar. Jika ingin belajar agak lama, kita bisa menyelinginya dengan melakukan penyegaran mata dan tubuh supaya tidak lelah.

Berpikir dan bersikap positif tentang matematika

Umumnya, permasalahan mendasar yang sering dijumpai ketika berhadapan dengan matematika adalah asumsi-asumsi negatif seperti matematika itu sulit, belajar matematika membosankan, matematika menakutkan dan sebagainya.

Secara tidak langsung, berbagai asumsi negatif tersebut berpengaruh dan memberikan sugesti terhadap otak bahwa matematika memang begitu adanya. Oleh karena itu, cobalah untuk berpikir positif dan memberikan sugesti terhadap diri sendiri bahwa matematika adalah materi yang menyenangkan, belajar matematika sangat mudah dan menantang, matematika membantu kita menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari dan sebagainya. 

Pikiran dan sikap positif tersebut akan memotivasi dan mendorong diri untuk mengasah kemampuan dalam memahami matematika.

Pikiran dan sikap positif tersebut akan memotivasi dan mendorong diri untuk mengasah kemampuan dalam memahami matematika.

Untuk memahami matematika, kita harus menyingkirkan berbagai pemikiran dan gagasan negatif yang terkadang meremehkan kemampua diri, seperti asumsi bahwa diri memang payah untuk urusan matematika. Pemikiran negatif tersebut seolah akan menjadi pembenar atas ketidakmampuan diri untuk berusaha belajar matematika. Padahal, jika mau berusaha, kita juga bisa memahami matematika.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi pemikiran negatif tersebut adalah memperbanyak asumsi, pikiran dan gagasan positif terkait matematika. daripada berpikir bahwa “aku memang bodoh dalam matematika”, bukankah lebih baik jika kita berpikir bahwa “aku akan bisa memahami matematika. dengan berlatih sungguh-sungguh dan belajar keras, aku yakin bahwa aku akan memahami matematika dengan lebih baik”.

Pemikiran-pemikiran positif tersebutlah yang akan mendorong kita untuk termotivasi belajar secara giat dan sungguh-sungguh. Perlu diketahui bahwa ada suatu penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian orang memang memiliki bakat secara alami dalam matematika.

Practice makes perfect, right?

Hal ini memang memberi keuntungan untuk belajar lebih cepat. Akan tetapi, pelajar yang bersungguh-sungguh belajar matematika akan mengalami peningkatan kemampuan memahami matematika yang sama besar dengan bakat alami. Bahkan, hasil dari belajar tersebut dapat bertahan lebih lama daripada bakat bawaan. Memang, belajar matematika tidak dapat diperoleh secara instan. Namun, belajar secara sungguh-sungguh jelas akan terlihat hasilnya. Practice makes perfect, right?