Bahasa Indonesia diresmikan menjadi bahasa persatuan dan bahasa untuk pergaulan sehari-hari di Indonesia sejak dibacakannya tiga keputusan dari Kongres Sumpah Pemuda II. 

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang tercipta dari berbagai serapan dari bahasa lain, baik bahasa daerah maupun bahasa dari negara lain, namun yang menjadi dasar terbentuknya bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu. 

Walaupun begitu, bahasa Indonesia bukan merupakan bahasa ibu karena banyak penduduknya yang juga menggunakan bahasa daerah masing-masing sebagai bahasa Ibu, sedangkan bahasa Indonesia hanya dijadikan bahasa baku atau formal. Banyak masyarakat Indonesia yang  menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek dan campuran dengan bahasa daerah setempat.

Asal Mula Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah salah satu dari ragam bahasa Melayu yang termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia dan telah menjadi lingua franca atau bahasa pengantar sejak awal Masehi di Nusantara.

Penggunaan bahasa Melayu telah menyebar di seluruh Nusantara karena digunakan oleh Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan. 

Bahasa Melayu Kuno memiliki logat “o” seperti yang digunakan di Melayu Jambi, Minangkabau, Palembang, Kerinci dan Bengkulu. 

Saat Islam mulai menyebar di Indonesia pada abad ke-12, mulai terjadi penyerapan bahasa Arab dan bahasa Parsi/Persia. Beberapa contoh kata bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab, seperti masjid, kitab, kursi dan akal. Sedangkan dari bahasa Persia, seperti anggur, saudagar, dewan dan tembakau. Proses penyerapan bahasa ini masih berlangsung hingga kini. 

Setelah kedatangan Portugis, Belanda, Spanyol dan Inggris di Nusantara, menambah kata serapan untuk perkembangan bahasa Indonesia selanjutnya. Beberapa kata serapan dari bahasa Belanda, seperti aktivitas, bando, losmen, absen, karcis, absen, apotek dan klinik. 

Untuk kata serapan dari bahasa Portugis, seperti armada, akta, bangku, boneka, botol, dansa, garpu dan gratis. Sedangkan dari bahasa Spanyol, antara lain meja, jaket, bendera, pabrik, sop dan kroket. Selain itu, terdapat bahasa Inggri yang menjadi salah satu sumber serapan, seperti menu, memo, kalkulator, komputer, sirkuit, kopi, kartun dan kaset.

Bahasa China juga turut dipakai oleh orang Melayu. Hal ini karena bahasa China digunakan untuk perniagaan dan bahasa sehari-hari. Beberapa kata dari bahasa China yang juga turut diserap ke dalam bahasa Indonesia, antara lain becak, engkong, bakpao, bakso, gincu, giwang, gue, kecap dan kawin. 

Sejarah Bahasa Indonesia

Pada saat penjajahan Belanda di Indonesia, bahasa Melayu digunakan untuk membantu pegawai pribumi yang kurang mahir dalam menggunakan bahasa Belanda. Selain itu, bahasa Melayu juga digunakan di sekolah rakyat sebagai bahasa pengantar. 

Pada awal abad ke-20, tepatnya pada tahun 1901 Indonesia mengadopsi ejaan Van Ophuijsen. Ejaan yang disusun oleh Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Makmoer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim ini merupakan ejaan lama bahasa Indonesia.

Ejaan ini memiliki ciri khas penggunaan huruf ‘j’ untuk bunyi huruf ‘y’ dan ‘oe’ untuk bunyi huruf ‘u’ serta penggunaan tanda diakritik atau tanda koma ain seperti dalam bahasa Arab yang digunakan dalam kata, seperti ta’, pa’ dan ma’moer.

Bahasa Indonesia terus berkembang dengan dibantu para sastrawan Indonesia yang juga turut menambah kosakata bahasa, seperti Marah Rusli, Sutan Takdir Alisjahbana, Hamka dan Chairil Anwar. 

Perkembangan Bahasa Indonesia

Ejaan untuk bahasa Indonesia semakin disempurnakan dengan penggunaan saat ini. Adapun urutan ejaan yang pernah diterapkan dalam bahasa Indonesia, antara lain:

  • Ejaan Van Ophuijsen yang disusun oleh Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Makmoer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim pada tahun 1896 dan kemudian diresmikan oleh pemerintah kolonial pada tahun 1901.
  • Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi yang diresmikan pada tahun 1947. Pada ejaan ini terdapat penggantian huruf ‘oe’ menjadi u, penggantian tanda koma ain menjadi ‘k’, penggunaan kata berulang dengan angka 2 dan awalan di- disatukan dengan kata yang menyertai.
  • Ejaan Pembaharuan yang diresmikan pada tahun 1957 sebagai hasil keputusan Kongres Bahasa Indonesia II. Namun ejaan ini tidak pernah digunakan. 
  • Ejaan Melindo yang digunakan pada tahun 1959.
  • Ejaan yang Disempurnakan (EYD) yang diresmikan pada 16 Agustus 1972. Saat penggunaan EYD, ejaan bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia dibakukan.
  • Ejaan Bahasa Indonesia yang diberlakukan pada tahun 2015. Pada ejaan ini terdapat penambahan huruf diftong ‘ei’, sehingga diftong dalam bahasa Indonesia menjadi ai, ei, au dan oi. Selain itu, terdapat penambahan aturan untuk penggunaan huruf tebal dan kapital.

Saat ini bahasa Indonesia terus mengalami perkembangan dan masih menyerap banyak kosakata baru dari bahasa daerah maupun bahasa negara lain. Dalam perkembangannya, pembukuan kosakata bahasa Indonesia terbilang lamban. 

Selain itu, yang menjadi masalah saat ini adalah minat para pemuda untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan sehari-hari sudah semakin berkurang, hal ini karena penggunaan bahasa asing yang lebih sering digunakan dalam pergaulan anak muda saat ini.

Penutup

Agar penggunaan bahasa Indonesia tetap lestari, selain mengandalkan usaha pemerintah dengan cara mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai acara resmi.

sebagai pemuda Indonesia sudah seharusnya kita bertindak dengan cara lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi sehari-hari dan melestarikan budaya membaca buku berbahasa Indonesia untuk menambah kosakata dan ilmu berbahasa Indonesia yang baik dan benar.  

Itulah penjelasan singkat seputar asal mula bahasa Indonesia dan perkembangannya hingga saat ini. Sudah seharusnya kita bangga dengan bahasa Indonesia karena asal usulnya, kosakatanya yang sangat beragam dan kemudahan untuk mempelajarinya.